Hormati saya, kita beda!!
Tiba-tiba zz jadi kaya orang yang kesambet, mo nulis yang aneh-aneh lah..Hmm Aneh? Tidak terlalu juga secara ini seperti meluahkan apa yang ada di fikiran, kurang lebih begitu...
Judulnya kok sara banget?? Kaya orang yang haus eksistensi dan merasa sok bisa hidup sendiri. Sementang dia beda dia bisa dengan penuh wibawa dan elegan yang aneh bicara minta dihormati...
Manusia dengan tampilan fisiknya saja yang sudah berbeda apalagi dengan logika berfikir dan hirarki kepribadiannya? hmm hmm... anak kembar aja bisa kaget kita saat melihat sifat dan karakter yang bertolak belakang. Dhoo...? Ini mau bahas tentang apa sih? Entahlah, coba saja lanjut dibaca dulu, susah juga jelasinnya dalam satu review begitu, secara tulisan ini aja hasil rangkuman dan libasan serta logika-logika hati dan perasaan (ehmm) yang turut dilibatkan.
Oke oke..jangan terlalu banyak gini lah mukaddimahnya, mau langsung aja ke pointnya, kenapa banyak orang bertele-tele bahkan dalam menulis di blog sekalipun? Lhoo..ini opini pribadi kan ya? So, terserah saya mau mengurai sepanjang apa dan membawanya kemana-mana tarik kesana kemari, yang penting saya punya itikad baik untuk menyampaikan apa yang saya pahami dan saya yakini. terkesan subjektif tapi ya sudahlah, siapa tahu bisa diusahakan objektif nanti...
Bagaimana kita tahu bahwa orang lain itu berbeda dengan kita? Yang kita suka belum tentu bisa diterima oleh yang lain dengan lapang dada. Yang kita benci boleh jadi menjadi sesuatu yang menyenangkan banyak hati. Jadi polemik kah? Ya!! Akan jadi polemik dan masalah besar saat dua orang yang punya perbedaan mengikis beda-beda itu dengan semena-mena. Tidak ada pemakluman sama sekali dan rasa menghargai. Alamat hancurlah itu hubungan seandainya mereka terjalin dalam suatu kedekatan. Tak perlu sehebat perang dunia ke III ( memang sudah ada? kayanya belum!!) tapi kebrutalan cara saat tidak bisa menerima perbedaaan dan memperlakukannya dengan sesuka hati kita tanpa simbang sana-sini, tanpa timbang rasa hati milik orang lain, ya sudahlah, tidak akan ada itu nanti menjembatani perbedaan. Istilah keren itu tidak akan berlaku disini. Mau dijembatani pakai apa? Kalau tiap usaha mencari besi, baja buat jembatan itu tidak mau ditempuh???
Lanjut? Kita coba saja, kalau nanti tidak sanggup bisa mundur teratur, yang masih semangat, kita langkahi itu sampai ke ujung...(Halaa...)
Polemik itu juga hanya akan jadi episode sampah yang tidak penting bagi orang-orang yang punya pemakluman berkekuatan super. beribu nyawa pemakluman ada pada mereka. Selalu ada positive thinking atas perbedaan. Mereka paham perbedaan itu bukan untuk dicari. Bukan pula memaksakan agar seragam, itu malah penghilangan mengerikan yang sulit diampuni oleh hati. Perbedaan itu sudah sedemikian menitis dalam diri kita, warna buat siapa yang lain agar tidak gelap dan sepi dengan coraknya sendiri.
Saat orang lain berbeda dengan diri kita, atau ide kita, sang curang akan langsung berteriak itu "salah" sambil menutup mata, dialah yang paling benar. Mengerikan!!
Padahal saat mereka beda dengan kita bukan berarti orang lain itu patut disalahkan bukan?? ya, inilah kita hari ini, sesumbar sekali vonis sana dan sini. Minta dipahami dengan dalih itu dan ini padahal kita sendiri tidak bersungguh-sungguh memperbaiki. Eh..ini lebih dalam konteks asosiasi, berserikat, berkumpul. Mmm..dalam lembaga misalnya...
Anggaplah ada yang tak terakomodir dengan baik, atau misalnya ada ide yang berbeda, sampaikan dengan bijak dan konstruktif, bukan malah menafikan dan merendahkan kerja orang lain dan membusungkan dada sambil berkata, harusnya seperti ini dan seperti itu, mengikut jalan kita yang paling keren sedunia. Apa itu? Makin kita merasa kita besar dan orang lain kecil, fakta tak terbantahkan sebenarnya kita itu kerdil. Benar!! Tak lebih dari itu!! Buktikan saja sendiri. Lihat contohnya dan analisa dengan gaya kita masing-masing.
Dalam konteks kedekatan dan kecenderungan dengan orang-orang..mmm...sebutlah teman kita. Oke oke...sahabat juga lebih fantastis rasanya kalau kita menyinggung-nyinggung beda seperti ini. Apa dua orang yang dekat itu seyogianya punya sesuatu yang mesti sama dan harus selalu maklum dan terima atas apapun yang dilakukan sahabatnya? Hmm.. secara idealnya mestinya tidak begitu bukan? Sahabat itu bukan orang yang mesti paham dan mau mengerti diri kita apapun yang terjadi. Alangkah tidak enaknya jadi sahabat seseorang yang selfish macam itu ya? Atau malah tak jadi masalah karena ita pun jadinya punya alasan sendiri untuk balas cuek-cuekan dengan dia? Huh, pusing!! Bingung!! (~_@)"\
Sudahlah, kalau bersama sebenarnya pekerjaan yang berat akan mudah terselesaikan. Bayangkan kalau dalam suatu acara, kepanitiaannya cuma ketua seorang, apa akan berlangsung itu acara? Meragukan. Oh... atau akan berlangsung dengan catatan jangan singgung-singgung masalah suksesnya. ^_^
Dan tentang label sahabat di punggung seorang teman. Hmm, iya... dalam persepsi kali ini, konteks teman dan sahabat perlu sedikit dipisahkan. Kenapa? Ya, karena teman dan sahabat itu sebenarnya memang agak beda. Aaa...pasti sudah paham kan? ya..ya..maksudnya memang kurang lebih begitu.
Kalau misuh-misuh dalam persahabatan, tak bisa dihindari pasti ada sekali dua. Yang parah kalau isinya pisuhan semua. Seperti yang di atas tadi. Kasihan sekali yang berada dalam lingkaran persahabatan macam itu. Karena persahabatan itu sebenarnya energinya itu masuk standar menakjubkan. Nyawa pemaklumannya begitu besar. Saat sahabat kita melakukan banyak kesalahan dan kegagalan, kebaikan yang begitu banyak masih terpantulkan ke mata dan hati kita. Walaupun... itu juga relatif. Tergantung kualitas persahabatan itu sendiri. Dewasa dan bijak dalam bersikap itu langka dimiliki banyak orang. Dan katanya ia tidak datang dengan serta merta. Bisa dilatih. Jadi yang masih suka ngambek-ngambekan tanpa sebab yang jelas dan kerjanya suka main vonis sana sini terhadap sahabatnya, wah...tantangan masih banyak dan rumit kayanya menanti di depan. Ya. Kalau masih meributkan hal-hal sepele maka bagaimana lagi nanti kalau dihadapakan pada masalah pelik dan besar?? Bagaimana??
Dan tambahan lagi, begitu aneh rasanya kalau tanpa mencari penyelesaian dengan optimal, tanpa angin, hujan, kilat, petir, halilintar, seseorang akhirnya memilih pergi atau meminta ditinggalakan oleh sahabatnya. Mental lemah ini. Harusnya diusahakan terus. Karena (paling tidak bagi saya), salah satu kejadian yang bisa jadi nightmare adalah kehilangan orang yang saya beri judul "Sahabat" di bahunya, dan saya tulliskan itu di hati saya. Rasanya belum punya penghapus atau tip-X untuk menghilangkan gurat tulisan itu. Payah. Aneh ya??
Ffuihh, Karena ini subjektif, peluang untuk didebat dan dipertanyakan jadinya terbuka lebar.
Aniway, zz sebenarnya sedang berusaha jadi sahabat yang baik. (halaaa ujung-ujung malah curhat :P ). Gak papa kan ya? Lhaa ini rumah zz juga. Mau melarang?? Jelas gak boleh ding!! :P
*Bongkar-bongkar blog sebentar*
Hmm... jadi pengen nulis ulang...
Sahabat itu seperti pelangi
Selalu bersedia datang dan memeluk
Setelah hujan pergi
Ia tetap ada meski hadirnya tak selalu
Thanks to Allah for giving me, The beloved people around in this temporary Life.
For all, I miss you...
\~o~/
Judulnya kok sara banget?? Kaya orang yang haus eksistensi dan merasa sok bisa hidup sendiri. Sementang dia beda dia bisa dengan penuh wibawa dan elegan yang aneh bicara minta dihormati...
Manusia dengan tampilan fisiknya saja yang sudah berbeda apalagi dengan logika berfikir dan hirarki kepribadiannya? hmm hmm... anak kembar aja bisa kaget kita saat melihat sifat dan karakter yang bertolak belakang. Dhoo...? Ini mau bahas tentang apa sih? Entahlah, coba saja lanjut dibaca dulu, susah juga jelasinnya dalam satu review begitu, secara tulisan ini aja hasil rangkuman dan libasan serta logika-logika hati dan perasaan (ehmm) yang turut dilibatkan.
Oke oke..jangan terlalu banyak gini lah mukaddimahnya, mau langsung aja ke pointnya, kenapa banyak orang bertele-tele bahkan dalam menulis di blog sekalipun? Lhoo..ini opini pribadi kan ya? So, terserah saya mau mengurai sepanjang apa dan membawanya kemana-mana tarik kesana kemari, yang penting saya punya itikad baik untuk menyampaikan apa yang saya pahami dan saya yakini. terkesan subjektif tapi ya sudahlah, siapa tahu bisa diusahakan objektif nanti...
Bagaimana kita tahu bahwa orang lain itu berbeda dengan kita? Yang kita suka belum tentu bisa diterima oleh yang lain dengan lapang dada. Yang kita benci boleh jadi menjadi sesuatu yang menyenangkan banyak hati. Jadi polemik kah? Ya!! Akan jadi polemik dan masalah besar saat dua orang yang punya perbedaan mengikis beda-beda itu dengan semena-mena. Tidak ada pemakluman sama sekali dan rasa menghargai. Alamat hancurlah itu hubungan seandainya mereka terjalin dalam suatu kedekatan. Tak perlu sehebat perang dunia ke III ( memang sudah ada? kayanya belum!!) tapi kebrutalan cara saat tidak bisa menerima perbedaaan dan memperlakukannya dengan sesuka hati kita tanpa simbang sana-sini, tanpa timbang rasa hati milik orang lain, ya sudahlah, tidak akan ada itu nanti menjembatani perbedaan. Istilah keren itu tidak akan berlaku disini. Mau dijembatani pakai apa? Kalau tiap usaha mencari besi, baja buat jembatan itu tidak mau ditempuh???
Lanjut? Kita coba saja, kalau nanti tidak sanggup bisa mundur teratur, yang masih semangat, kita langkahi itu sampai ke ujung...(Halaa...)
Polemik itu juga hanya akan jadi episode sampah yang tidak penting bagi orang-orang yang punya pemakluman berkekuatan super. beribu nyawa pemakluman ada pada mereka. Selalu ada positive thinking atas perbedaan. Mereka paham perbedaan itu bukan untuk dicari. Bukan pula memaksakan agar seragam, itu malah penghilangan mengerikan yang sulit diampuni oleh hati. Perbedaan itu sudah sedemikian menitis dalam diri kita, warna buat siapa yang lain agar tidak gelap dan sepi dengan coraknya sendiri.
Saat orang lain berbeda dengan diri kita, atau ide kita, sang curang akan langsung berteriak itu "salah" sambil menutup mata, dialah yang paling benar. Mengerikan!!
Padahal saat mereka beda dengan kita bukan berarti orang lain itu patut disalahkan bukan?? ya, inilah kita hari ini, sesumbar sekali vonis sana dan sini. Minta dipahami dengan dalih itu dan ini padahal kita sendiri tidak bersungguh-sungguh memperbaiki. Eh..ini lebih dalam konteks asosiasi, berserikat, berkumpul. Mmm..dalam lembaga misalnya...
Anggaplah ada yang tak terakomodir dengan baik, atau misalnya ada ide yang berbeda, sampaikan dengan bijak dan konstruktif, bukan malah menafikan dan merendahkan kerja orang lain dan membusungkan dada sambil berkata, harusnya seperti ini dan seperti itu, mengikut jalan kita yang paling keren sedunia. Apa itu? Makin kita merasa kita besar dan orang lain kecil, fakta tak terbantahkan sebenarnya kita itu kerdil. Benar!! Tak lebih dari itu!! Buktikan saja sendiri. Lihat contohnya dan analisa dengan gaya kita masing-masing.
Dalam konteks kedekatan dan kecenderungan dengan orang-orang..mmm...sebutlah teman kita. Oke oke...sahabat juga lebih fantastis rasanya kalau kita menyinggung-nyinggung beda seperti ini. Apa dua orang yang dekat itu seyogianya punya sesuatu yang mesti sama dan harus selalu maklum dan terima atas apapun yang dilakukan sahabatnya? Hmm.. secara idealnya mestinya tidak begitu bukan? Sahabat itu bukan orang yang mesti paham dan mau mengerti diri kita apapun yang terjadi. Alangkah tidak enaknya jadi sahabat seseorang yang selfish macam itu ya? Atau malah tak jadi masalah karena ita pun jadinya punya alasan sendiri untuk balas cuek-cuekan dengan dia? Huh, pusing!! Bingung!! (~_@)"\
Sudahlah, kalau bersama sebenarnya pekerjaan yang berat akan mudah terselesaikan. Bayangkan kalau dalam suatu acara, kepanitiaannya cuma ketua seorang, apa akan berlangsung itu acara? Meragukan. Oh... atau akan berlangsung dengan catatan jangan singgung-singgung masalah suksesnya. ^_^
Dan tentang label sahabat di punggung seorang teman. Hmm, iya... dalam persepsi kali ini, konteks teman dan sahabat perlu sedikit dipisahkan. Kenapa? Ya, karena teman dan sahabat itu sebenarnya memang agak beda. Aaa...pasti sudah paham kan? ya..ya..maksudnya memang kurang lebih begitu.
Kalau misuh-misuh dalam persahabatan, tak bisa dihindari pasti ada sekali dua. Yang parah kalau isinya pisuhan semua. Seperti yang di atas tadi. Kasihan sekali yang berada dalam lingkaran persahabatan macam itu. Karena persahabatan itu sebenarnya energinya itu masuk standar menakjubkan. Nyawa pemaklumannya begitu besar. Saat sahabat kita melakukan banyak kesalahan dan kegagalan, kebaikan yang begitu banyak masih terpantulkan ke mata dan hati kita. Walaupun... itu juga relatif. Tergantung kualitas persahabatan itu sendiri. Dewasa dan bijak dalam bersikap itu langka dimiliki banyak orang. Dan katanya ia tidak datang dengan serta merta. Bisa dilatih. Jadi yang masih suka ngambek-ngambekan tanpa sebab yang jelas dan kerjanya suka main vonis sana sini terhadap sahabatnya, wah...tantangan masih banyak dan rumit kayanya menanti di depan. Ya. Kalau masih meributkan hal-hal sepele maka bagaimana lagi nanti kalau dihadapakan pada masalah pelik dan besar?? Bagaimana??
Dan tambahan lagi, begitu aneh rasanya kalau tanpa mencari penyelesaian dengan optimal, tanpa angin, hujan, kilat, petir, halilintar, seseorang akhirnya memilih pergi atau meminta ditinggalakan oleh sahabatnya. Mental lemah ini. Harusnya diusahakan terus. Karena (paling tidak bagi saya), salah satu kejadian yang bisa jadi nightmare adalah kehilangan orang yang saya beri judul "Sahabat" di bahunya, dan saya tulliskan itu di hati saya. Rasanya belum punya penghapus atau tip-X untuk menghilangkan gurat tulisan itu. Payah. Aneh ya??
Ffuihh, Karena ini subjektif, peluang untuk didebat dan dipertanyakan jadinya terbuka lebar.
Aniway, zz sebenarnya sedang berusaha jadi sahabat yang baik. (halaaa ujung-ujung malah curhat :P ). Gak papa kan ya? Lhaa ini rumah zz juga. Mau melarang?? Jelas gak boleh ding!! :P
*Bongkar-bongkar blog sebentar*
Hmm... jadi pengen nulis ulang...
Sahabat itu seperti pelangi
Selalu bersedia datang dan memeluk
Setelah hujan pergi
Ia tetap ada meski hadirnya tak selalu
Thanks to Allah for giving me, The beloved people around in this temporary Life.
For all, I miss you...
\~o~/

5 Comments:
This comment has been removed by the author.
By
TuanAdan, at 1:27 AM
ipiet setuju banget soal yang satu nie.btw apa semua orang berpikir hal seperti itu ya...
kayaknya cuma orang yang sadar akan arti persahabatan dan sahabat,itu sendiri yang paling mengerti...jadi kesimpulannya jangan coba2 sok berdeklamasi ria soal "aku mengerti kamu" ato kalimat semacam itu laah...sebelum bisa berbagi hati dan bisa saling mengerti...tul gak?
*********************
wuahhhh..jadi panas banget ni jah
heheh
By
assumayyah, at 1:38 AM
# el_adani
Setuju!! Memang begitu...
Kalau semuanya sama, pasti akan membosankan kali dunia ini...
^_^
Haduuh, asal gak jadi semboyan aja ya...
# Assumayyah
hmmm sebenarnya niat awalnya malah bukan buat memanaskan lho Pit, tapi kalau membuat ipit jadi panas nah harus ditinjau kembali mungkin ada faktor-faktor x penyebabnya :P
Tidak semua orang punya pandangan yang sama, itu sudah pasti makanya harusnya saling menghargai dan bijak saat menghadapi perbedaan yang harus dikuatkan...
Perjuangan itu benyak bentuknya ya memang... ^_^
udah turun panasnya? perlu dikompres? Atau di siram? Jangan samapai kebakaran ya Pit? awas lho, zz gak mau tanggung jawab..
*Buru-buru submit*
he he...
By
azizah, at 11:36 PM
Setuju dengan ipiet, deklarasi "aku yang paling mengerti kamu" itu gak perlu, yang penting bagaimana membuat seseorang itu nyaman disisi kita dan kita pun nyaman disamping nya... gimana??????
By
jasmine, at 7:06 PM
Setuju dengan ipiet, deklarasi "aku yang paling mengerti kamu" itu gak perlu, yang penting bagaimana membuat seseorang itu nyaman disisi kita dan kita pun nyaman disamping nya... gimana??????
Yappa.. iya iya.. memang disana kan ya seninya :)
Siip deh kalau gitu ;)
By
azizah, at 8:33 PM
Post a Comment
<< Home